Alarm 04.30
Sinopsis
Setiap pagi, gerbang sekolah selalu ditutup tepat jam 7.00.
Dan setiap pagi juga, Rara selalu datang 5 menit setelahnya.

Bukan karena Rara anak nakal.
Tapi karena kasur Rara punya gravitasi yang terlalu kuat.
Alarm HP bunyi jam 5.30. _Snooze_.
Alarm kedua jam 5.40. _Snooze lagi_.
Alarm ketiga jam 5.50. Rara matiin sambil merem, terus tidur lagi.
Tahu-tahu langit udah terang, ibunya udah teriak dari dapur, dan Rara lari-lari pakai baju kebalik.
Akibatnya?
Namanya selalu disebut pas upacara.
Pelajaran pertama selalu ketinggalan.
Dan tatapan Bu Guru tiap Rara masuk kelas... aduh, nyesek

Malam itu Rara nangis di kamar. Di buku diary-nya dia tulis:
_"Aku capek jadi anak yang selalu telat. Aku capek bikin Ibu kecewa."_
Keesokan paginya, Rara ngeliat Dita.
Dita rumahnya paling jauh. Harus naik 2 angkot. Tapi anehnya, Dita selalu duduk paling depan, rapi, sambil buka buku.

"Dit, kamu kok bisa sih bangun pagi terus?" tanya Rara pelan.
Dita nyengir. "Karena aku punya alasan buat bangun, Ra. Aku pengen jadi orang pertama yang ngerti pelajaran. Biar nanti bisa ngajarin adikku."
Kalimat itu nyangkut di kepala Rara.
Malam itu juga Rara berubah.
HP ditaruh jauh dari kasur. Alarm disetel jam 4.30.
Sebelum tidur, Rara bisik ke diri sendiri: _"Besok aku nggak mau telat."_

Hari pertama: gagal. Ketiduran lagi.
Hari kedua: bangun, tapi kelamaan di kamar mandi.
Hari ketiga: nyampe gerbang pas jam 7.00 pas. Napas ngos-ngosan.

Tapi hari keempat...
Jam 4.30 alarm bunyi. Rara melek. Dingin. Ngantuk. Tapi dia ingat kata Dita.
Dia bangun. Mandi air dingin. Sarapan, Berjalan ke sekolah.

Dan untuk pertama kalinya, Rara masuk kelas saat kursinya masih kosong.
Jendelanya masih berembun. Angin paginya sejuk banget.
Bu Guru masuk dan kaget. "Lho, Rara udah di sini?"
Rara cuma senyum. Dadanya anget. Bangga.

Sejak hari itu Rara ngerti.
Berjuang bangun pagi bukan soal melawan alarm.
Tapi soal melawan diri sendiri yang pengen nyerah.
Dan ternyata, rasanya enak banget... jadi orang yang tepat waktu.
Tag
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.
Belum ada komentar untuk cerita ini.