Damar dan Cincin Sada
Sinopsis
Damar bukan anak biasa. Sejak kecil, kalau dia marah atau panik, barang-barang di sekitarnya melayang sendiri. Gelas jatuh, buku beterbangan. Ibunya bilang itu "kutukan", jadi Damar selalu menahan diri dan takut dengan kekuatannya.
Kekuatan itu disebut Telekenesis - menggerakkan benda dengan pikiran.
Di ujung kampung, ada rumah paling kumuh. Atapnya bocor, dindingnya dari triplek bekas. Di situ tinggal Kakek Juma.
Kakek Juma hidup sendiri. Anaknya merantau dan tak pernah pulang. Setiap hari jam 4 subuh, kakek mendorong gerobak rongsokannya, memungut botol plastik dan kardus. Orang-orang sering mengejek, "Kakek bau rongsok!"
Suatu sore hujan deras, Damar melihat gerobak Kakek Juma terbalik di selokan. Karung-karung rongsokan tumpah. Kakek Juma berusaha mengangkatnya, tapi tangannya gemetar, punggungnya sakit.
"Kek, biar aku bantu!" kata Damar.

Damar ingin mengangkat karung yang berat itu. Saking inginnya membantu, dia memejamkan mata dan... karung-karung itu melayang pelan-pelan dan masuk kembali ke gerobak!
Kakek Juma tidak takut. Matanya malah berkaca-kaca.
"Nak... akhirnya kamu datang. Kekuatanmu sudah bangun ya?" kata kakek pelan.
Damar kaget. "Kakek tahu?"
Kakek Juma mengajak Damar ke rumah kumuhnya. Di dalam, hanya ada tikar tipis dan lampu minyak. Kakek membuka kaleng biskuit tua yang berkarat. Di dalamnya bukan uang, tapi sebuah cincin kayu hitam dengan ukiran mata.
"Ini namanya Cincin Sada. Dulu kakek juga seperti kamu," bisik Kakek Juma.

Ternyata, 50 tahun lalu, Kakek Juma juga punya telekenesis. Kekuatannya liar, tak terkendali, sampai membuat rumahnya terbakar. Dia lari, menyembunyikan kekuatannya, dan memilih hidup sebagai pemulung agar tidak menyakiti siapa-siapa. Cincin ini diwariskan gurunya untuk mengendalikan kekuatan - bukan untuk membuatnya lebih kuat, tapi untuk membuatnya lebih tenang.
"Telekenesis bukan soal kekuatan otot, Damar. Ini soal hati. Kalau hatimu marah, barang ikut marah. Kalau hatimu tenang, barang ikut tenang," kata kakek.
Cincin itu dipakaikan ke jari Damar. Cincin itu terasa hangat.
"Coba sekarang," kata kakek, menunjuk tumpukan botol plastik yang berantakan.
Damar menarik napas. Biasanya dia memaksakan pikirannya sampai pusing. Kali ini, dengan cincin itu, dia tidak memaksa. Dia membayangkan membantu kakek, membayangkan ibunya tersenyum.
Dan ajaib - botol-botol itu tidak melayang liar. Mereka bergerak pelan, tersusun rapi seperti ada tangan tak terlihat yang menatanya menjadi tembok baru untuk rumah kakek!
Malam itu, rumah kumuh Kakek Juma perlahan berubah. Bukan jadi istana, tapi jadi rumah yang layak. Damar dengan kekuatannya membantu menambal atap bocor dengan seng bekas, merapikan dinding, tanpa paku dan palu.
Keesokan harinya, warga yang biasanya mengejek terdiam melihat rumah Kakek Juma yang bersih.
Sejak itu, setiap sore, Damar datang ke rumah kakek. Bukan hanya untuk melatih kekuatan, tapi untuk belajar. Kakek mengajarinya cara paling kuat menggunakan telekenesis: bukan untuk mengangkat yang paling berat, tapi untuk membantu yang paling membutuhkan.

Dan Cincin Sada itu? Ternyata kekuatannya bukan sihir. Kekuatan sebenarnya ada di Damar. Cincin itu hanya mengingatkannya untuk tetap tenang dan berhati baik. Karena hanya hati yang baik yang bisa mengendalikan kekuatan besar.
Tag
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.
Belum ada komentar untuk cerita ini.