Lila si Kupu-Kupu Cantik yang Sombong

Lila si Kupu-Kupu Cantik yang Sombong

Fabel Oleh ika 4 minggu yang lalu

Sinopsis

Di sebuah taman bunga, hiduplah seekor kupu-kupu bernama Lila.

Sayapnya sangat indah. Warnanya sayapnya seperti pelangi: biru, ungu, emas, berkilau setiap terkena sinar matahari. Saking indahnya, semua serangga memandangnya dengan kagum.



Tapi sayangnya, Lila jadi sombong.

"Sayapku terlalu indah untuk hinggap di tanah kotor," katanya.

"Tempatku harusnya di istana bunga paling atas."


Suatu sore, angin mulai kencang. Lebah Bani terbang tergesa-gesa.

"Lila! Ada badai mau datang. Yuk berlindung di bawah daun besar bareng kami," ajak Bani.



Lila mengangkat dagunya. "Hah, berlindung sama kalian? Tempat biasa seperti itu tidak pantas untukku. Aku yakin akan dapat tempat yang lebih layak. Istana bunga pasti menunggu."


Teman-teman menggeleng. "Tapi badainya besar, Lila..."

"Aku bisa mengatasinya sendiri," jawab Lila sambil terbang tinggi.


Sayangnya, karena kesombongannya, Lila terlambat.

Dia terbang keliling mencari "tempat layak", tapi semua daun sudah penuh. Saat dia masih bingung, badai datang.



Angin kencang menerbangkan Lila. Hujan menghantam. Ranting memukul sayapnya.

Dia terjatuh, lemas.


Ketika badai reda, Bani dan teman-teman mencarinya.

Mereka menemukan Lila di balik kelopak bunga yang basah. Sayap indahnya... banyak yang terkoyak.



Bani meneteskan madu ke lukanya. Kumbang menutupi tubuhnya dengan daun.

"Kami tetap menolongmu," kata Bani pelan.


Lila menangis. "Maaf... aku sombong. Aku kira indah berarti harus sendiri. Ternyata indah juga berarti mau bersama."


Sejak itu Lila sembuh. Sayapnya tidak seindah dulu, tapi hatinya jadi lebih indah.

Dia belajar terbang rendah, hinggap di tanah, dan tertawa bersama serangga lain.


Pesan cerita

Kehebatan tanpa kerendahan hati bisa bikin kita terluka. Tapi persahabatan akan tetap menolong, walau kita pernah salah.

Tag

#dongeng #fabel #persahabatan #Kupu-kupu #Lebah

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.

Belum ada komentar untuk cerita ini.