Rina dan Sepeda Merah

Rina dan Sepeda Merah

Cerita Pendek Oleh ika 5 hari yang lalu

Sinopsis

Rina umur 7 tahun. Semua teman-temannya sudah bisa sepeda. Ada Dani yang bisa lepas tangan, ada Lili yang bisa sambil bonceng boneka.


Hanya Rina yang belum. Sepeda merah barunya masih diparkir rapi di teras, takut lecet.


"Sepedanya keren, tapi kalau Rina tidak pakai, sepedanya sedih lho," kata Ayah suatu sore.


Akhirnya Rina memberanikan diri. Hari pertama latihan di lapangan dekat sawah.



Jatuh Pertama.

Ayah pegang belakang, Rina kayuh. Kencang sekali, dia panik lihat roda depan.


BRUK! Jatuh ke rumput. Lutut lecet. Rina nangis. Si Tetes jatuh dengan tangan kecilnya melambai, seolah bilang "tidak apa-apa".


"Malunya kalau dilihat Dani," kata Rina.


Ibu yang datang membawakan air minum bilang, "Dani dulu jatuhnya 8 kali. Ibu hitung. Kalau kamu baru sekali, masih kurang 7 kali biar jago seperti dia."


Rina tertawa sambil sesenggukan.



Jatuh Kedua dan Ketiga.

Hari kedua, Rina belajar cara berhenti. Dia lupa rem yang mana. Sepeda menabrak tumpukan jerami. Jerami berterbangan, Ayah ketawa, Rina ikut ketawa.



Hari ketiga, tantangan baru: tikungan. Di ujung lapangan ada pohon mangga besar. Setiap mau belok, Rina takut dan malah lurus terus.


"Lihatnya jangan ke pohonnya, lihatnya ke jalan yang mau kamu tuju," kata Ayah. "Mata kita menuntun stang."


Rina mencoba lagi. Pandangannya dia arahkan ke celah kosong di samping pohon, bukan ke pohonnya. Ajaib, stangnya ikut belok!


Hari Keempat — Angin Datang.

Sore itu angin kencang dari arah laut. Rina sudah bisa lurus 20 meter tanpa dipegang. Tapi angin mendorongnya dari samping. Sepedanya oleng.


Dani dan Lili datang menonton. Rina grogi.


"Ayo Rin, kamu bisa!" teriak Lili.


Rina menarik napas panjang seperti diajarkan Ibu. Dia tidak melawan angin, dia sedikit miringkan badan, kayuh lebih pelan tapi stabil. Pelan-pelan... pelan-pelan...


Dia berhasil melewati tikungan mangga itu untuk pertama kalinya!


Bukan cuma itu, dia berhasil memutar balik dan kembali ke Ayah.


"TRING-TRING!" bel sepedanya dia bunyikan keras-keras. Semua anak bersorak.


Malamnya, Rina memarkir sepedanya. Sudah tidak mengkilap lagi, ada sedikit lumpur di ban dan goresan kecil di bel. Tapi bagi Rina, itu tanda paling indah — tanda sepeda itu sudah dipakai untuk petualangan.


Di bukunya dia tulis:

Hari 1: Jatuh dan nangis.

Hari 2: Jatuh dan ketawa.

Hari 3: Belajar belok.

Hari 4: Aku melawan angin dan menang!


Ayah membacanya dan bilang, "Besok kita coba jalan ke warung nenek naik sepeda ya?"


Rina mengangguk mantap. Dia sudah tidak takut lagi.


Tag

#keberanian #ceritaku #Hobi

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.

Belum ada komentar untuk cerita ini.